06 September 2010

Catatan Blogger Dodol part 2...

Pikir saya 200 kg adalah jumlah yang fantastis untuk seorang blogger yang menggunakan warnet. Blog itu website gratisan, semua serba gratis, mengapa saya sebut fantastis. Mulai dengan pemesanan itu saya kontak langsung pabrik, mereka sudah langsung respon dengan hanya kontak telepon. Saat itu barang langsung diantar ke pemesan di serpong, sambil jalan jalan pikirku. Saat sampai, benar saja, dodol langsung di sebar di retail yang ada di serpong tangerang, ada 10 retail dan gerai buah. Wah..ini merupakan sebuah pencapaian terbesar pikirku. Sambil jalan menuju pulang, otakku terus tak henti hentinya berdialog, jika,,,jika..dan jika. Semua menjadi semangat, malah perjalanna menuju subang pun sampai ga terasa sudah sampai. Saya terus cek keberadaan dodol di serpong,,minggu yang bagus, semua berjalan mulus sampai 3 bulan. Menginjak bulan ke empat mulai muncul masalah, mulai dari besarnya biaya iklan yang di tetapkan oleh retail, ditambah dengan adanya retur barang yang tanpa ada bukti bahwa dodol itu retur, permainan mereka pikirku. Ya sudahlah, akhirnya saya berinisiatif untuk menaikan harga, walaupun beresiko. Entah dari mana asalnya, tiba tiba dalam jangka satu minngu dari pengiriman, ada masalah dengan kualitas dodol, muncul jamur putih didalamnya. Komplain demi komplain saya terima, hari itu saya sampai menari 120 kg, sebuah kerugian besar. Tapi semua adalah pelajaran, dan semua itu merupakan salah satu proses untuk menjadi blogger sejati. Blogger subang ...moal gagal !!!
Read more...

05 September 2010

No Sexs Tourism...


Tulisan ini muncul ketika saya membaca tentang orang yang meninngal terkena AIDS di Indonesia, terutama di subang. sedih saya mendegarnya. Memang sudah diramalkan akan ada peningkatan signifikan tentang penyakit AIDS ini, namun tidak menyangka akan sebanyak ini, terutama di subang. Ya sudahlah, kita akan flash back lagi tentang mengapa gelombang AIDS ini tidak terkontrol. Sebetunya negara tetangga kita thailand lebih banyak pengidap AIDS nya, penyebarannya melalui wanita seks, ekspor import prostitusi termasuk traficking. Karena itu kita pun jangan ikut-ikutan mengembangkan wisata seks dengan alasan apapun. Para wisatawan mancanegara datang ke indonesia karena sun, sand, sea souvenir dan seks. Tapi heran dengan negara lain semisal malaysia, mereka tidak punya wisata candi, gunung dan sebagainya, namun ternyata mereka lebih berkembang dari sisi pariwisatanya. Cuma yang jelas malaysia tidak mengambangkan wisata seks. Jadi gembar gembor tentang program wisata kita mungkin akan sia-sia jika aroma seks selalu dikedepankan dari semua elemen wisata kita. Kita harus mengembangkan industri pariwisata yang bersih dari seks yang akan menyebarkan virus AIDS. Kasihan anak-anak kita.
Read more...

Tv, Mengendurkan dan melenturkan moral ??

Terus terang saya khawatir jika melihat anak anak balita yang tak bisa lepas dari televisi. Pada umuran balita dampaknya lumayan parah,,mulai dari sering marah jika TV dimatikan sampai meniru adegan kekerasan. Saya berfikir tv berpengaruh pada anak dan remaja ada dua hal. Yang pertama, mempertinggi agresifitas serta membuat mereka cenderung menyukai kekerasan. Dan kedua, mengendurkan dan melenturkan nilai-nilai moral. Alasannya sederhana,,kita di hadapkan dengan TV cabel yag berpuluh-puluh chanel. Di beberapa negara berkembang, Indonesia masih pemegang rekor tertinggi dalam kepemilikan antena parabola/cabel. Di negara asia saja jarang kita melihat antena parabola bermunculan di atap atap rumah. Tapi di Indonesia, jangankan di atap rumah, kadang mereka ikhlas iuran secara kolektif hanya untuk menikmati suguhan acara parabola. Belum ada penelitian yang jelas mengenai dampak dari televisi, namun jika melihat tayangan kekerasan serta sinetron sinetron yang malah memberikan contoh buruk pada kita, saya yakin akan nampak efeknya. Hal kecil dampak pada remaja adalah ketika remaja di sekolah suka memotong pembicaraan, makan permen karet di kelas, membuat gaduh, berpakaian tidak sopan, membuang sampah sembarangan. Bahkan efek yang sangat ekstrim lainnya yaitu bunuh diri, pemerkosaan, perampokan, penyalahgunaan narkotika, alkohol dan hamil di luar niakah. Kekerasan dan free sex sangat mewarnai berita tentang remaja. Kita harus ingat, bangsa kita agak tangkas jika meniru hal-hal negatif dari luar. Maka sedia payung sebelum hujan.
Read more...

04 September 2010

Vandalisme Anak Muda


Seringkali melihat di televisi,,bonek maupun viking melempari kereta api ketika kereta melaju kencang. Awalnya mungkin mereka melakukan pelemparan karena terkait dengan kekalahan tim kesayangannya. namun ternyata tidak seperti itu. Seringkali pegawai kereta api membereskan pecahan kaca yang berserakan. Tidak mungkin mereka anak anak tersebut melakukan tindakan vandalisme tanpa sebab. Mungkinkah karena bentuk sebuah protes?, mungkin saja karena mereka tidak diperbolehkan berdagang didalam kereta api. Sudahlah, itu di daerah lain. Tapi ternyata muncul vandalisme yang lain, yaitu geng motor. Saya sempat heran, ngapain mereka membawa bendera gengnya sambil konvoi sepeda motor. Apakah mereka hanya butuh eksistensi??atau bentuk penyaluran emosi yang terpendam?. Saya heran ada apa dengan mereka? apa tidak lebih baik mereka berkumpul dengan kelompok kelompok ilmiah remaja, atau kegiatan ekstrakulikuler?. Sambil berdiam di sebuah sudut kota subang, pikiran saya terganggu. ternyata ada yang salah dengan remaja remaja itu, himpitan ekonomi keluarga...dibenturkan dengan gaya hidup remaja sekarang, maka muncul " Protes " berlebihan dan akhirnya mereka salurkan dengan tindakan vandalisme, tawuran dengan kelompok geng lainnya, merusak kendaraan orang lain tanpa sebab, memukuli orang dengan tiba tiba. Pikirku, ini tugas kita,,ternyata tekanan ekonomi keluarga menjadi salah satu sebab munculnya vandalisme, dengan tidak mengabaikan sebab sebab yang lainnya.
Read more...

03 September 2010

Kesenjangan Sosial yang Menampar

Pagi itu saya berjalan pagi menyusuri komplek dimana saya tinggal. setelah berapa lama berteduh di sebuah pohon dekat terminal. beberapa saat mendekat seorang ibu dengan dengan membawa sepeda butut, dengan berpeluh dia membawa barang dagangannya di belakang sepeda. dia membawa satu keranjang tutut ( sejenis keong kecil yang berwarna hitam ) yang sudah di masak. Setelah saling menyapa, saya tanyakan berapa harga tutu tersebut. Saya benar benar kaget ketika dia memberi tahu bahwa harganya 1 kantong hanya seribu, satu kantong kurang lebih 50 tutut. Satu hari dua puluh bungkus, berarti sehari harus mencari 1000 tutut. pikir saya sebuah angka yg susah di cari melihat semakin seedikitnya area sawah di sini. saya tanya lagi bisa berapa hari ibu mengumpulkan tutut? dia jawab 3 hari. Jadi dia akan berjualan setelah 3 hari. Setelah dapat baru di olah dan di masak. Saya termangu mendengar jawaban ibu itu. Mungkin dia bekerja mencari disawah sawah, di bawah terik matahari,,mungkin juga melibatkan anak anaknya, dan baru 3 hari bisa dijual.Mungkin barangkali saaudara kita inilah yang termasuk golongan miskin.
Sekitar seminngu kemudian saya dan kawan kawan blogger subang makan di sebuah rumah makan yang tidak terlalu mewah, sebuah tempat di kawasan atas subang, Makanannya lumayan lejat pikirku. Selepas pulang dari acara makan makan tersebut, saya terdiam di rumah. Hari itu makan makan harus membayar 180.000. sesaat teringat ibu penjual tutut, kasihan pikirku. berarti hari itu saya sama dengan telah memakan 9000 tutut dalam hitungan menit. Dan jumlah itu bisa dikumpulkan selama berbulan bulan,, tanpa terasa air mata sampe menetes. Inilah potret kemiskinan kita. Ada kesenjangan ekstrem antara lapisan atas dan lapisan bawah. ini tugas kita untuk memperpendek kesenjangan itu.
Read more...

28 Agustus 2010

jangan Renggut " Mahkotaku "

Aku adalah mahasiswi Sekolah Kejuruan di Bandung. Tulisan ini dimulai ketika aku mulai menapaki semester 1. Hari itu cuaca panas sekali,,,sambil menyusuri jalan kampus, aku berfikir " Hari pertama kuliah,,tapi kampus sepi sekali yah? " gumamku dalam hati. Setiap sudut yang biasa aku lihat para pedagang pun masih sepi, hanya ibu tua yang sedang beres beres jualannya, kasihan liat ibu itu. Tapi semua berjuang untuk hidup,,ya seperti itu. Aku mendekat " belum pada masuk kampus ya bu?? " tanyaku sambil menghentikan langkah. " iya neng, mungkin jam 9.00 mahasiswa pada datang ke kampus " ujarnya. " Ya sudah bu, terima kasih " jawabku pendek. Ibu tersebut cuma mengangguk sambil terus membereskan dagangannya. Aku berjalan menuju ruang rektorat yang juga masih dikunci,,memang waktu itu menunjukan 06.30,,sambil duduk duduk di halaman rektorat, sesekali aku memandang ke setiap sudut kampus. " Bagus juga kampus ini,,luas, asri dan bikin betah " bicaraku dalam hati. Tanpa terasa dua jam aku duduk sambil berfikir tentang kuliahku hari ini. Tanpa terasa mahasiswa sudah berbondong bondong memasuki gerbang kampus, dan kantin kampus pun sudah mulai dipenuhi dengan orang yang sarapan pagi.
Read more...