Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

11 Oktober 2010

Lagi - Lagi Geng Motor

Sabtu sore ketika saya lewat ke halaman mesjid agung, sekumpulan anak - anak geng motor sedang memarkirkan motornya dengan sembarang, sedikit menghabiskan bahu jalan. Beberapa hari ini mendengar cerita - cerita tentang semakin berkembangnya geng motor, selain banyaknya kejadian pengrusakan oleh mereka. Ceritanya pada suatu sore karena terlalu tengah memakai motor, seorang temanku di pukul, dia tidak melawan,,,mungkin karena terlau banyaknya mereka. Kemudian malamnya dengan mata kepala sendiri saya lihat, karena mobil itu melaju lambat, maka mereka hajar dengan besi dan tongkat mobil tersebut, walaupun hanya kaca spionnya saja yang rusak. Kabar lainnya juga, siswa sebuah SMA Negeri yang malam hari di pukuli sampai koma selama satu minggu. Sangat miris saya mendengar berita - berita tentang geng motor di Subang, mau jadi apa mereka ini?? mau jadi pengacau??atau cikal bakal perampok?? semua itu adalah sebuah kemungkinan. Dan yang lebih mengerikan lagi, mereka selalu mengibarkan bendera geng, tapi bikin saya mengerutkan dahi, masa bendera mereka merah putih biru. Itu kan bendera Belanda?, mereka tidak mengerti bagaimana Belanda menjajah Indonesia selama 300 tahun, dan untuk mengibarkan bendera merah putih kita harus berperang. Mereka tidak sekolah? atau Bodoh? atau pura2 bego?merasa gagah mungkin dengan kebodohannya.. Yang saya sayangkan kepada aparat kepolisiaan, beberapa kali mereka bergerombol,,polisi hanya lewat saja, seolah tak peduli. Mudah-mudahan ada penanganan dari aparat kepolisian, sehingga bisa mencegah aksi-aksi yang berlanjut kepada hal kriminal. Wallahu 'alam.
Read more...

24 September 2010

Menggunakan Knalpot Bising Pribadi Yang Bermasalah

Akhir - akhir ini saya sering terganggu dengan suara bising knalpot kendaraan bermotor, terlebih lagi rumah saya letaknya di pinggir jalan raya yang menuju sebuah sirkuit roadrace. Kebanyakan motor dua tax yang sangat mengganggu disertai dengan asap knalpot yang berbau dan berwarna. Saya tidak terlalu banyak tau, apakah motornya yang sudah tua, atau mesinnya bermasalah?. Cuma ketika sering memperhatikan , ternyata yang bersuara bising itu motor - motor keluaran baru, bukan motor yang mesinnya bermasalah. Semakin hari motor - motor itu lewat, knalpot diganti dengan yang bising, ada lagi yang membobok knalpot standar pabrikan, ada apa ini?. Satu waktu di hari libur saya tidur siang, belum lima menit menuju terlelap, lewat sebuah motor dengan suara bising yang sangat keras, sampai tidur pun tak bisa diteruskan. Bahkan suatu waktu ketika sedag memakai motor, di depan saya ada motor dengan suara yang sangat mengganggu, di gas lah supaya bisa mendahului motor tersebut, dengan maksud supaya tidak bising, tapi karena motor itu keluaran baru maka tidak terkejar, akhirnya melambat saja, supaya motor itu segera menjauh. Ada lagi kejadian ketika saya mengendarai motor malam hari, sudah sangat berisik tidak memakai lampu, sudah niat saya mau teriakin saja motor itu, semakin dekat ternyata yang mengendarainya memakai baju militer. Alhasil tidak jadi untuk menegornya. Akhirnya coba di analisa, ternyata bagaimana mau menindak suara-suara knalpot yang bising, orang aparat sendiri yang mencontohkan memakai knalpot dengan suara bising. Bagi saya orang yang memakai knalpot berisik mempunyai masalah secara psikologi, pakai motor yang sudah standar pabrikasi saja dirubah menjadi tidak standar dan mengganggu. Apalagi jika orang tersebut di beri amanah memimpin, mungkin sikapnya juga akan macam-macam dan nyeleneh. Mudah-mudahan ada solusi buat masalah ini, yang jelas aparat kepolisian yang bisa menghentikan ini semua. Dan menjadi catatan bahwa dengan menindak para pengguna knalpot bising ini jangan hanya menjadi proyek baru untuk para penegak hukum, semoga penegakan hukum berdampak positif bagi masyarakat. Wallalu'alam.
Read more...

20 September 2010

Penjaja Seks atau Yang Terjual??

Siang itu matahari panas luar biasa, sampe untuk berjalan 20 meter saja saya harus berpeluh banyak. Hari itu sekitar pukul 13.00, jam makan siang, satu rombongan masuk ke sebuah cafe, yang kebetulan saya pun makan siang di cafe tersebut. Tidak terlalu lama mereka pun memesan makanan, sambil menunggu mereka berbisik bisik ke yang punya cafe, tidak terlalu lama datang laki laki yang saya boleh bilang dia seorang banci. Tak lama dia menghampiri rombongan tersebut, dan memberikan satu album foto. Terus saja saya makan sembari mendengar dialog mereka. Ternyata banci itu menawarkan foto foto wanita penjaja seks. Pikiran dan pendapatku selalu bilang bahwa rata rata banci itu adalah germo dari para penjaja seks. Ternyata hari itu benar, banci itu bernegosiasi harga. Satu wanita per show time 300.000,- kata dia, tak lama dia menelepon seseorang. Tak lama berselang muncul wanita yang mungkin dalam foto itu. Rombongan itu mengerutkan dahi, mungkin ga cocok, tapi saya lihat mereka memberi 100.000,- kepada perempuan itu, setelah menerima langsung pergi. Sepertinya negosiasi gagal, karena tidak cocok. Walaupun rombongan tapi saya lihat hanya dua orang yang akan memakai penjaja seksnya. Tak lama datang lagi perempuan yang berbeda, ternyata percis seperti tadi, mereka tidak cocok. Mungkin banci itu sudah kesel, dia menawarkan seorang perawan dengan tarif 1.500.000,-, mereka mengiyakan, cuma dia bilang tidak bisa sekarang karena dia masih kelas 3 SMP. Demi Allah saya kaget, tadi saja perempuan yang ditawarkan sangat muda, walau secara fisik mereka tinggi semampai, sekarang yang banci itu akan jual seorang perawan kelas 3 SMP. Apa yang terjadi dengan kota tempat tinggalku?? sebuah fenomena pelacurankah?atau sindikat penjualan anak?? karena yang mereka tawarkan anak yang masih di bawah umur. Kalau hanya pelacuran mungkin mereka hanya berurusan dengan kebutuhan perut, atau mungkin gaya hidup. Tapi kalau sudah penjualan perawan dengan anak yang masih di bawah umur, mungin ini sudah masuk pidana penjualan anak. Wallahu'alam. Semoga ada sikap dan tindakan yang tegas dari pemerintah kotaku. Ini baru satu cafe, belum tempat tempat yang memang terkonsentrasi dengan penjaja seks.
Read more...

11 September 2010

Iedul Fitri dan Kemunafikan

Iedul fitri adalah hari raya yang kita tunggu tunggu, bagaimana tidak, sebulan kita menyelesaikan ibadah saum. Makanya ketika iedul fitri berbagai perasaan muncul, ada senang karena ibadah saumnya di tutup dengan sempurna dengan takbir dan shalat ied. Walaupun semua bergembira, tapi ada perasaan yang tidak bisa di sembunyikan, yaitu perasaan sedih harus berpisah dengan bulan ramadhan, kita merasa gembira di iedul fitri karena kita telah melalui proses di bulan ramadhan. Bersalam salaman adalah sebuah manifestasi dan aplikasi makna dari maaf memaafkan, makanya ketika iedul fitri umat islam bersalam salaman untuk meminta maaf. Memang harus seperti itu mengingat kita sebagai hablumminallah dan sebagai mahluk sosial tentunya. Raut muka orang bersalaman bermacam macam ekspresi, ada yang tersenyum, ada yang murung, ada yang menangis, ada yang tertawa. Dari semua ekspresi itu intinya adalah tetap bermaaf maafan serta temu kangen. Sebab hanya iedul fitri yang bisa mengumpulkan sanak saudara dari manapun, tanpa moment iedul fitri jarang sekali sebuah keluarga besar bisa berkumpul. Setelah selesai shalat ied di lapangan komplek perumahanku, tergambar jelas orang bersalaman dengan mengharu biru. Ada sisi menarik ketika memperhatikan kedua orang itu, yang satu anggota DPRD yang terhormat, yang satu adalah anggota DPRD dengan fraksi yang berbeda, setiap acara mereka selalu ribut, selalu tidak sependapat. Saking seringnya bertengkar sampai sampai mereka tidak saling sapa. Hampir setahun mereka seperti itu, salaman di masjid saja mereka segan. Tapi saya perhatikan setiap tahun mereka bersalaman, dengan senyum yang ramah, malah berangkulan setelah shalat ied. Tapi setiap tahun juga mereka bertengkar, ketemu iedul fitri mereka berangkulan lagi, saya tidak mengerti, apa memang seperti itu para pejabat kalau sudah di depan rakyatnya, seolah tidak ada masalah. Itu di daerahku, ketika menonton TV pun ternyata sama, bereka para pejabat itu bersalaman, habis lebaran mereka bertarung lagi demi kepentingan mereka. pakah ini sikap kepura puraan??mungkin kadang muncul kemunafikan di iedul fitri. Wallahu'alam..
Read more...

Potret Pengemis di Hari Raya

Kemarin saya dan keluarga menunaikan shalat ied di lapangan dekat komplekku. Dari mulai datang ke lapang, saya lihat para pengemis berjejer di gerbang lapangan. Saya tidak habis pikir, apa mereka tidak mau shalat ied, dan kemudian merayakan iedul fitri bersama keluarga besarnya. Setelah sahalat, saya perhatikan mereka tidak mengikuti shalat, khutbah, bahkan ketika sampai saatnya selesai, bahkan ketika bersalam salaman, mereka tetap mengadahkan tangan dengan wajah memelas. Setelah pulang saya berfikir, mungkin ini masalah klasik, yaitu masalah kemiskinan dan masalah ketersediaan lapangan kerja. Atau paling tidak untuk hari raya saja mereka tidak merayakannya seperti kita. Mungkinkah ada ketidak meretaan pembagian zakat fitrah?. Pengemis adalah sebuah fenomena. Bagaimana tidak, berdasarkan penelitian sebuah lembaga survey di Jakarta belum lama ini, pendapatan brutto mereka antara Rp.50.000,- s.d Rp. 100.000,- dan uang receh yang beredar ditangan para pengemis ini hampir mencapai Rp. 1 milyar perhari. Sungguh sebuah fenomena. Memasuki bulan Ramadhan, mereka berbondong-bondong datang ke kota-kota besar di Indonesia. Termasuk di Subang sendiri mereka telah datang sebelum bulan puasa tiba. Kegiatan para pengemis ini disinyalir banyak pihak di organisir oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Kita memang disunnahkan bersedekah dan tidak harus pandang bulu. Namun ada baiknya kita memberikan sedekah kepada orang yang tepat menerimanya, bukan kepada para Pengemis yang teroganisir itu. Memang pada kenyataan masih banyak sekali anak Bangsa ini yang masih hidup dibawah garis kemiskinan dan ini tentu merupakan sebuah pekerjaan rumah bagi pemerintah Subang. wallahu'alam....
Read more...

05 September 2010

No Sexs Tourism...


Tulisan ini muncul ketika saya membaca tentang orang yang meninngal terkena AIDS di Indonesia, terutama di subang. sedih saya mendegarnya. Memang sudah diramalkan akan ada peningkatan signifikan tentang penyakit AIDS ini, namun tidak menyangka akan sebanyak ini, terutama di subang. Ya sudahlah, kita akan flash back lagi tentang mengapa gelombang AIDS ini tidak terkontrol. Sebetunya negara tetangga kita thailand lebih banyak pengidap AIDS nya, penyebarannya melalui wanita seks, ekspor import prostitusi termasuk traficking. Karena itu kita pun jangan ikut-ikutan mengembangkan wisata seks dengan alasan apapun. Para wisatawan mancanegara datang ke indonesia karena sun, sand, sea souvenir dan seks. Tapi heran dengan negara lain semisal malaysia, mereka tidak punya wisata candi, gunung dan sebagainya, namun ternyata mereka lebih berkembang dari sisi pariwisatanya. Cuma yang jelas malaysia tidak mengambangkan wisata seks. Jadi gembar gembor tentang program wisata kita mungkin akan sia-sia jika aroma seks selalu dikedepankan dari semua elemen wisata kita. Kita harus mengembangkan industri pariwisata yang bersih dari seks yang akan menyebarkan virus AIDS. Kasihan anak-anak kita.
Read more...

Tv, Mengendurkan dan melenturkan moral ??

Terus terang saya khawatir jika melihat anak anak balita yang tak bisa lepas dari televisi. Pada umuran balita dampaknya lumayan parah,,mulai dari sering marah jika TV dimatikan sampai meniru adegan kekerasan. Saya berfikir tv berpengaruh pada anak dan remaja ada dua hal. Yang pertama, mempertinggi agresifitas serta membuat mereka cenderung menyukai kekerasan. Dan kedua, mengendurkan dan melenturkan nilai-nilai moral. Alasannya sederhana,,kita di hadapkan dengan TV cabel yag berpuluh-puluh chanel. Di beberapa negara berkembang, Indonesia masih pemegang rekor tertinggi dalam kepemilikan antena parabola/cabel. Di negara asia saja jarang kita melihat antena parabola bermunculan di atap atap rumah. Tapi di Indonesia, jangankan di atap rumah, kadang mereka ikhlas iuran secara kolektif hanya untuk menikmati suguhan acara parabola. Belum ada penelitian yang jelas mengenai dampak dari televisi, namun jika melihat tayangan kekerasan serta sinetron sinetron yang malah memberikan contoh buruk pada kita, saya yakin akan nampak efeknya. Hal kecil dampak pada remaja adalah ketika remaja di sekolah suka memotong pembicaraan, makan permen karet di kelas, membuat gaduh, berpakaian tidak sopan, membuang sampah sembarangan. Bahkan efek yang sangat ekstrim lainnya yaitu bunuh diri, pemerkosaan, perampokan, penyalahgunaan narkotika, alkohol dan hamil di luar niakah. Kekerasan dan free sex sangat mewarnai berita tentang remaja. Kita harus ingat, bangsa kita agak tangkas jika meniru hal-hal negatif dari luar. Maka sedia payung sebelum hujan.
Read more...

04 September 2010

Vandalisme Anak Muda


Seringkali melihat di televisi,,bonek maupun viking melempari kereta api ketika kereta melaju kencang. Awalnya mungkin mereka melakukan pelemparan karena terkait dengan kekalahan tim kesayangannya. namun ternyata tidak seperti itu. Seringkali pegawai kereta api membereskan pecahan kaca yang berserakan. Tidak mungkin mereka anak anak tersebut melakukan tindakan vandalisme tanpa sebab. Mungkinkah karena bentuk sebuah protes?, mungkin saja karena mereka tidak diperbolehkan berdagang didalam kereta api. Sudahlah, itu di daerah lain. Tapi ternyata muncul vandalisme yang lain, yaitu geng motor. Saya sempat heran, ngapain mereka membawa bendera gengnya sambil konvoi sepeda motor. Apakah mereka hanya butuh eksistensi??atau bentuk penyaluran emosi yang terpendam?. Saya heran ada apa dengan mereka? apa tidak lebih baik mereka berkumpul dengan kelompok kelompok ilmiah remaja, atau kegiatan ekstrakulikuler?. Sambil berdiam di sebuah sudut kota subang, pikiran saya terganggu. ternyata ada yang salah dengan remaja remaja itu, himpitan ekonomi keluarga...dibenturkan dengan gaya hidup remaja sekarang, maka muncul " Protes " berlebihan dan akhirnya mereka salurkan dengan tindakan vandalisme, tawuran dengan kelompok geng lainnya, merusak kendaraan orang lain tanpa sebab, memukuli orang dengan tiba tiba. Pikirku, ini tugas kita,,ternyata tekanan ekonomi keluarga menjadi salah satu sebab munculnya vandalisme, dengan tidak mengabaikan sebab sebab yang lainnya.
Read more...

03 September 2010

Kesenjangan Sosial yang Menampar

Pagi itu saya berjalan pagi menyusuri komplek dimana saya tinggal. setelah berapa lama berteduh di sebuah pohon dekat terminal. beberapa saat mendekat seorang ibu dengan dengan membawa sepeda butut, dengan berpeluh dia membawa barang dagangannya di belakang sepeda. dia membawa satu keranjang tutut ( sejenis keong kecil yang berwarna hitam ) yang sudah di masak. Setelah saling menyapa, saya tanyakan berapa harga tutu tersebut. Saya benar benar kaget ketika dia memberi tahu bahwa harganya 1 kantong hanya seribu, satu kantong kurang lebih 50 tutut. Satu hari dua puluh bungkus, berarti sehari harus mencari 1000 tutut. pikir saya sebuah angka yg susah di cari melihat semakin seedikitnya area sawah di sini. saya tanya lagi bisa berapa hari ibu mengumpulkan tutut? dia jawab 3 hari. Jadi dia akan berjualan setelah 3 hari. Setelah dapat baru di olah dan di masak. Saya termangu mendengar jawaban ibu itu. Mungkin dia bekerja mencari disawah sawah, di bawah terik matahari,,mungkin juga melibatkan anak anaknya, dan baru 3 hari bisa dijual.Mungkin barangkali saaudara kita inilah yang termasuk golongan miskin.
Sekitar seminngu kemudian saya dan kawan kawan blogger subang makan di sebuah rumah makan yang tidak terlalu mewah, sebuah tempat di kawasan atas subang, Makanannya lumayan lejat pikirku. Selepas pulang dari acara makan makan tersebut, saya terdiam di rumah. Hari itu makan makan harus membayar 180.000. sesaat teringat ibu penjual tutut, kasihan pikirku. berarti hari itu saya sama dengan telah memakan 9000 tutut dalam hitungan menit. Dan jumlah itu bisa dikumpulkan selama berbulan bulan,, tanpa terasa air mata sampe menetes. Inilah potret kemiskinan kita. Ada kesenjangan ekstrem antara lapisan atas dan lapisan bawah. ini tugas kita untuk memperpendek kesenjangan itu.
Read more...